Mampukah Pertamina …???
Beberapa waktu yang lalu santer dibicarakan mengenai isu nasionalisasi perusahaan migas asing yang kemudian dihubungkan dengan ketidakmampuan pertamina untuk mengelola semua lapangan minyak di Indonesia jika terjadi nasionalisasi karena keterbatasan teknologi.
Perusahaan Migas Asing adalah perusahaan dengan modal asing yang membeli suatu Wilayah Kerja Perminyakan (WKP) untuk dicari kemungkinan adanya lapangan migas untuk kemudian dieksploitasi.
Sedangkan Nasionalisasi adalah pembelian kembali WKP-WKP tersebut oleh pemerintah untuk kemudian dilakukan pengelolaan oleh BUMN yang dalam hal ini adalah Pertamina
Apakah Pertamina mampu?apakah Pertamina mempunyai teknologi untuk melakukan semua itu? Apakah Pertamina mempunyai cukup modal? Apakah SDM Pertamina bisa menangani semua itu?
Itulah beberapa pertanyaan yang muncul yang mewakili kepesimisan mengenai kemampuan BUMN tersebut.
Saat ini pertamina EP merupakan oil company yang berkedudukan sama dengan perusahaan-perusahaan asing lain dari Negara manapun.
Oil Company adalah perusahaan pemilik izin Eksplorasi dan Produksi suatu WKP (Wilayah Kerja Perminyakan), contoh Chevron, Exxonmobile, Total, Pertamina, Lapindo, dll
Service Company adalah perusahaan yang bertindak sebagai kontraktor rekanan yang mengerjakan kegiatan-kegiatan seperti pemboran, logging, workover, dll di lapangan migas milik oil company. Contoh : Schlumberger, Halliburton, Elnusa, dll.
Apakah Pertamina mempunyai teknologi?
Ketika suatu oil company mempunyai suatu lapangan yang dianggap berpotensi kemudian berencana untuk melakukan suatu pemboran, maka oil company akan melakukan lelang tender yang diikuti oleh service company. Setelah didapatkan service company pemenang tender maka pemboran akan dilakukan oleh kontraktor ini. Kemudian oil company akan membayar sejumlah uang kepada service company atas pekerjaan ini.
Contoh kasus diatas juga berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan selain pemboran, misalnya workover, pembuatan anjungan lepas pantai, pengadaan surface facilities, dll.
Jadi, pada intinya teknologi-teknologi itu dipunyai oleh service company dan ini berarti semua oil company mempunyai kemampuan teknologi yang sama untuk mengelola suatu lapangan sesulit apapun lapangan tersebut.
Sehingga dalam hal teknologi, Pertamina mempunyai kemampuan yang sama dengan perusahaan-perusahaan asing yang lain.
Apakah Pertamina mempunyai cukup modal?
Semakin sulit kondisi suatu lapangan (biasanya ekivalen dengan kondisi geologi seperti kedalaman reservoir, abnormalitas lapisan, dll) maka akan dibutuhkan modal yang semakin besar untuk mengelola lapangan tersebut.
Seperti kita ketahui bahwa investor mancanegara pada umumnya mempunyai modal yang lebih besar dibandingkan investor lokal. Sehingga sampai kondisi ini mungkin bisa dinilai bahwa pertamina adalah tidak mampu.
Akan tetapi jangan lupakan keberadaan Bank. Dalam pengelolaan suatu lapangan pada industri migas sudah menjadi hal yang lazim jika modal didapatkan dari pinjaman bank. Dengan kondisi industri perminyakan yang seperti ini, menurut penulis Bank akan dengan mudah memberikan kredit kepada industri perminyakan.
Jadi, Pertamina mempunyai kemampuan yang sama dalam hal perModalan dengan oil company asing yang lain.
Apakah SDM Pertamina tidak cukup?
Indonesia mempunyai SDM-SDM yang bisa diandalkan. Perlu bukti?? Seberapa seringkah anak2 bangsa memenangkan olimpiade ilmu pengetahuan? Hampir setiap tahun.
Jadi sebenarnya bangsa ini mempunyai otak yang sama dengan bangsa barat yang begitu ditakuti itu.
Lalu apakah permasalahannya ????
Apakah anda pernah mendengar Ahmadinejad, yang dengan lantang berteriak kepada superpower Amerika? Ataukah Hugo Chavez, yang dengan bangga menasionalisasi lapangan-lapangan minyak di Venezuela?
Mereka telah mempunyai mental …….
Ingatkah anda dengan kasus blok Cepu? Yah, saat itu Pertamina dirombak pada tikungan terakhir sehingga Exxon mampu menyalipnya.
Ini menunjukkan intervensi asing masih sangat mempengaruhi kebijakan bangsa ini.
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Terkini
-
Taut
-
Arsip
- Oktober 2008 (1)
- Juli 2008 (2)
- April 2008 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS